A. Definisi Kreativitas
Kreativitas (creativity) adalah salah satu kemampuan intelektual manusia yang sangat penting dan oleh kebanyakan ahli psikologi kognitif dimasukkan ke dalam kemampuan memcahkan masalah .
Menurut beberapa para tokoh definisi kreativitas yaitu, :
Clark Moustakis (1967), ahli Psikologi Humanistik, menurutnya kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam , dan orang lain.
Rhodes, menurutnya kreativitas didefinisikan sebagai Person, Process, Press, dan Product. Keempat P ini saling berkaitan, yaitu Pribadi (Person) kreatif yang melibatkan diri dalam proses (Process) kreatif, dan dengan dorongan dan dukungan (Press) dari lingkungan, menghasilkan produk (Product) kreatif.
Hulbeck (1945), menurutnya “ Creative action is an imposing of one’s own whole personality on the environment in an unique and characteristic way”. Dimana tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya.
Sternberg (1988), menurutnya kreativitas adalah titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis, yaitu intelegensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi.
Baron (1962), menurutnya kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial.
Torrance (1988), menurutnya kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasil-hasilnya.
Dari definisi diatas dapat didefinisikan Kreativitas adalah proses kognitif (mengekspresikan, mengaktualisasikan, mengamati adanya masalah, menilai, menguji dugaan dll) untuk menghasilkan gagasan-gagasan baru yang berguna.
Sedangkan dalam Al- Qur’an kreativitas disebut empat sifat Allah sebagai Maha Pencipta, yaitu al- Khaliq, al- Badi’, al- Khallaq, dan al- Musawwir. Seperti berturut-turut digambarkan dalam ayat-ayat berikut :
...
Artinya : ”Itulah Tuhanmu, Tiada Tuhan kecuali Dia, Pencipta segala sesuatu, Dialah pengurus segala sesuatu”. (QS. Al- An’am : 102)
Selanjutnya pada :
Artinya : “Bukankah yang mencipta langit dan bumi sanggup menciptakan seperti itu Dialah Maha Pencipta dan Maha Mengetahui”. (QS. Yasin : 81)
Demikian juga pada ayat :
•
Artinya : “Pencipta langit dan bumi. Bagaimanakah bisa Ia beranak. Padahal ia tidak beristeri. Dan ia mencipta segala sesuatu dan Ia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-An’am : 101)
Begitu juga ayat :
Artinya : “Dialah yang menggambarmu di dalam rahim sebagaimana Ia kehendaki, Tiada Tuhan kecuali Dia yang Maha Mulia dan Bijaksana. (QS. Ali- Imran: 6)
Itulah keempat gelar Allah sebagi pencipta. Kemungkinan kreativitas manusia terletak pada penciptaan bentuk ketiga, yaitu dalam hal penciptaan yang terus-menerus, yakni merubah suatu benyuk ke bentuk lain seperti halnya mencipata rumah dari kayu atau batu dan lain-lain. Akan tetapi, seperti halnya dengan intelek, kreativitas tidak lepas dari asal ILAHI (devine origine) . Dengan demikian ada tiga aspek makhluk yaitu manusia, kosmos atau alam jagat dan kitab suci (wahyu) dimana terdapat ayat-ayat allah yang masing-masing menempati tempatnya sendiri-sendiri yang satu tidak akan berfungsi tanpa yang lain.
Ada beberapa takrif atau definisi yang digunakan untuk dalam menentukan yang dimaksud dengan konsep kreativitas. Abd. Ghaffar telah memberikan 100 takrif, dalam buku Hasan Laggulung hanya membagi menjadi tiga takrif, yaitu :
Kreativitas Sebagai Gaya Hidup
Yang dimaksud disini adalah proses yang dilalui oleh seseorang ketika ia menghadapi suasana-suasana dimana ia terlibat dan ia menghayatinya dengan mendalam kemudian merespon sesuai dengan dirinya. Jadi, responya itu berbeda dengan respon orang lain. Dan respon ini bersifat istimewa, oleh sebab itu respon ini dianggap kreatif. Dengan demikian kreativitas dalam kehidupan seseorang menjadi seperti yang dikehendakinya sendiri bukan seperti yang dikehendaki orang lain.
Kreativitas Sebagai Karya Tertentu
Kreativitas disini merupakan proses atau aktivitas yang dikerjakan oleh seseorang, yang berakhir dengan ia menciptakan sesuatu yang baru. Baru disini kembali kepada seseorang dan bukan kepada apa yang wujud dalam bidang dimana kita berlaku kreativitas.
Abd Ghaffar mengartikan kreativitas disini yaitu, salah satu sifat terpenting daripada karya kreatif adalah ifat baru. Sedang baru itu bersifat nisbi, dapat dipahami menurut apa yang diketahui atau diperkatakan dalam bidang tertentu dalam berbagai bidang kehidupan, dan dikalangan anggota-anggota kumpuilan tertentu dan dalam waktu tertentu.
Kreativitas Sebagai Proses Intelektual
Kreativitas disini proses yang mengandung kepekaan terhadap masalah-masalah dibidang tertentu, kemudian membentuk beberapa fikiran atau hipotesis dan menyampaikan hasilnya kepada orang lain.
B. Tahap- Tahap Kreativitas
Secara umum tahapan kreativitas dapat dibagi dalam 4 tahap (Papu, 2001): Exploring, Inventing, Choosing dan Implementing.
1) Exploring
Pada tahap ini individu mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam kondisi yang ada saat ini. Sekali mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut maka proses kreativitas sudah dimulai. Hal penting yang harus diperhatikan pada saat ini adalah menciptakan iklim yang menunjang proses berpikir kreatif.
2) Inventing
Pada tahap ini, sangat penting bagi individu untuk melihat atau mereview berbagai alat, teknik dan metode yang telah dimiliki yang mungkin dapat membantu dalam menghilangkan cara berpikir yang tradisional.
3) Choosing
Pada tahap ini individu mengidentifikasi dan memilih ide-ide yang paling mungkin untuk dilaksanakan.
4) Implementing
Implementing. Tahap akhir untuk dapat disebut kreatif adalah bagaimana membuat suatu ide dapat diimplementasikan. Seseorang bisa saja memiliki ide cemerlang, tetapi jika ide tersebut tidak dapat diimplementasikan, maka hal itu menjadi sia-sia saja.
C. Teori- Teori Psikologi dan Kreativitas
c.1 Psikoanalisa dan Kreativitas
Pengikut-pengukut psikoanalisa mengajukan penafsiran sesuai dengan gambaran mereka yang umum tentang pribadi mereka dan dinamika pribadi. Seperti yang dkatakan pengikut Freud, mereka mengatakan bahwa kreativitas itu timbul dari pertarungan psikologikal yang bermula pada seseorang semenjak hari-hari pertama dalam kehidupanya. Jadi, yang dimaksud kreativitas disini adalah hasil pertarungan yang berlaku antara kandungan naluri yang terdiri dari naluri seks dan naluri agressi dan pengawal-pengawal masyarakat dan tuntutan-tuntutannya.
Yang berlaku ketika membuat kreatif adalah bahwa orang yang kreatif itu menjauhkan diri dari realitas menuju kehidupan khayalan yang membolehkannnya menyatakan kandungan-kandungan tak sadar yang dapat dipuaskannya dalam kehidupan sebenarnya.
Jadi kreativitas itu adalah kelanjutan permainan khayalan yang dimulakan oleh orang kreatif ketika ia seorang kanak-kanak. Demikianlah kreativitas itu menjadi ekspressi terhadap kandungan-kandungan tak sadar yang tidak diterima masyarakat tetapi dalam bentuk yang daapt diterimanya (Freud, 1908, 1911).
c.2 Teori-Teori Asosiasi dan Kreativitas
Mednick mengajukan bagi proses kreatif itu berdasar dari kerangka umum teori asosiasi. Kerangka umum ii menekankan pada pembentukan hubungan antar perangsang-perangsang sang dan gerak balas yang terkenal dalam sejarah psikologi dengan teori S- R, di mana S melambangkan perangsang (Stimulus) dan R melambangkan Response.
Mednick memulakan konsepsi teorinya dengan definisi proses kreatif, di antaranya ia berpendapat proses pemikiran kreatif adalah mencapai struktur-struktur batu daripada unsur-unsur asosiasi diman terpenuhi syarat-syarat tertentu dan bahwa ia haruslah mempunyai faedah .
c.3 Mazhab Kemanusiaan dan Kreativitas
Mazhab ini berpendapat bahwa manusia seluruhnya memiliki kemampuan kreatif. Dalam mazhab ini mengatakan, jika masyarakat itu bebas, lepas dari tekanan dan faktor penengh yiu memaksa manusia untuk bersifat turut-turutan, maka dal;am masyarakat yang bebas dari faktor-faktor ini tenaga kreatif manusia akan berkembang dan terbuka, dan disitulah berlakunya perwujudan diri. Jadi perwujudan potensi-potensi kreatif manusia ada pada perwujudan dirinya atau ia mencapai kesehatan mental yang wajar.
Pengikut mazhab ini berpendapat bahwa eksploitasi kemampuan kreatif seseorang adalah perwujudan dirinya, perwujudan kemauan yang mendorong ia mewujudkan dirinya sebagai manusia. Dan mengatakan ada dua macam kreatif. Satu macam yang membawa kepada karya kreatif yang mempunyai sifat-sifat yang telah dikenl, sedangkan yang satu lagi yang tidak ada kaitannya dengan kaitan tertentu.
D. Kreativitas Dalam Perspektif Islam
Kreativitas tak dapat tidak mengajak kita berbicara tentang kreativitas sebagai aktivitas Tuhan dan kaitannya dengan perbuatan manusia. Sebab kreativitas sendiri bermakan mencipta atau proses penciptaan, dalam hal ini proses penciptaan pada manusia. Sudah tentu dengan demikian kita harus berbicara tentang proses penciptaan Allah atas alam ini.
d.1 Penciptaan Allah terhadap Alam menurut Al- Qur’an :
Didalam Al- Qur,an menyebutkan beberapa ayat bahwa Allah mencipta segala sesuatu. Oleh sebab itu ia disebut Khaliq (pencipta) Khallaq (pencipta) seperti dalam ayat ”Itulah Tuhan mu, tiada Tuhan kecuali Dia. Pencipta segala sesuatu. Oleh sebab itu sembahlah Dia. Dialah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. Al- An’am: 102)”. Dan terdapat dalam QS. Yasin ayat 81, ada pula yang disebut dengan Badi’ (pencipta): ”pencipta langit dan bumi, Iia tidak punya anak dan tidak punya isteri. Ia mencipta segala sesuatu. Dan ia Maha Tahu akan segala sesuatu (QS. Al- An’am : 101)”.
Dan adapula disebut dengan Al- Musawwir pencipta atau penggambar : ”Dialah mencipta kamu didalam rahim sebagaiman Ia kehendakai. Tiada Tuhan kecuali Dia Yang Mulia lagi Maha Bijaksan. (QS. Ali- Imran : 6)”.
Masih banyak ayat Al- Qur’an yang menggambarkan bahwa Allah lah yang menciptakan alan jagat ini, termsuk manusia, dan makhluk hidup lainnya. Dan dalam bentuk penciptaannnya yang ketiga, yaitu dalam pengertian perubahan, perkembangan, dan lain-lainlah, yang ada kaitannya dengan kreativitas manusia. Sebab manusia mencipta bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang sudah wujud kemudian dirubah kebentuk yang lebih baik. Dan ini menyangkut pada perbuatan Tuhan dan pengaruhnya terhadap perbuatan manusia.
d.2 Kreativitas dan Kebebasan Kemauan
Pada kalimat terakhir diatas ada kaitannya perbuatan Tuhan dan pengaruhnya terhadap perbuatan manusia, dan ini erat kaitannya dengan kreativitas, yakni tentang penciptaan perbuatan manusia. Yang akan dibahas disini kaitan tingkahlaku kreatif dengan pandangan kebebasan manusia.
Manusia dikaruniai bakat dan kemampuan seperi bahasa, lidah, bibir, anggota yang bergerak, hati yang dapat menanggapi, akal yang dapat berpikir dan menyelidiki, mengetahui, belajar, kemampuan bekerja dan sebagainya. Bekerja dengan anggota-anggota didunia, dan untuk dunia. Inilah yang disebut Allah dalam Al- Qur’an dengan taskhir (penciptaan). Dunia dengan segala isinya, bulan, matahari, hewan, tumbuhan, guung dan alam lainnya, diciptakan untuk amal perbuatan manusia dan menerima pengaruhnya.
Banyak cara yang dilalui untuk meraih tujuan itu. Tapi ada manusia yang mengambil cara yang salah untuk mencapai semua tujuannya. Manusia, dengan segala bakat yang diberikan kepadanya mungkin salah dalam mengenal Iradah Allah, mungkin juga ia mendurhakai Allah, namun itu makna kebebasan akhlak. Tetapi hendaknya bila melakukan kesalahan maka harus dibnenarkan untuk jalan kebaikan dan dengan perintah Allah dan larangannya, dari segi halal dan haramnya.
Jika mnusia mengerjakan perbuatan yang membina berdasar pada keimanan pada Allah dan dengan cinta kepada- Nya dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangann- Nya, dan tidak membedakan antara seseorang dengan orang lain, bila semua ini berlaku maka perbuatan itu kreatif dan bertanggung jawab. Yaitu jika manusia mengerjakan perbuatan dengan kemauan sendiri dengan penuh tanggung jawab pribadi, maka ia menerima balasannya baik didunia maupun diakhirat.
Ini semualah yang disebut dengan perbuatan kreatif yang berdasa sr pada kebebasan kemauan, perbuatan yang baik dan penuh tanggung jawab, inilah kaitannya kreativitas dan kebebasan kemauan menurut pandangan islam.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kreativitas (creativity) adalah salah satu kemampuan intelektual manusia yang sangat penting dan oleh kebanyakan ahli psikologi kognitif dimasukkan ke dalam kemampuan memecahkan masalah.
Sedangkan dalam Al- Qur’an kreativitas disebut empat sifat Allah sebgai Maha Pencipta, yaitu al- Khaliq, al- Badi’, al- Khallaq, dan al- Musawwir. Dimana kreativitas manusia terletak pada penciptaan bentuk ketiga, yaitu dalam hal penciptaan yang terus-menerus, yakni merubah suatu benyuk ke bentuk lain.
Dalam buku Hasan Laggulung hanya membagi menjadi tiga takrif, yaitu :
#Kreativitas sebagai Gaya Hidup
#Kreativitas sebagai Karya Tertentu
#Kreativitas sebagai Proses Intelektual
Secara umum tahapan kreativitas dapat dibagi dalam 4 tahap (Papu, 2001): Exploring, Inventing, Choosing dan Implementing.
Psikoanalisa dan kreativitas, berpendapat kreativitas itu adalah kelanjutan permainan khayalan yang dimulakan oleh orang kreatif ketika ia seorang kanak-kanak. Demikianlah kreativitas itu menjadi ekspressi terhadap kandungan-kandungan tak sadar yang tidak diterima masyarakat tetapi dalam bentuk yang daapt diterimanya (Freud, 1908, 1911).
Teori Asosiasi dan Kreativitas, berpendapat proses pemikiran kreatif adalah mencapai struktur-struktur batu daripada unsur-unsur asosiasi diman terpenuhi syarat-syarat tertentu dan bahwa ia haruslah mempunyai faedah.
Mazhab Kemanusiaan dan kreativitas, berpendapat bahwa eksploitasi kemampuan kreatif seseorang adalah perwujudan dirinya, perwujudan kemauan yang mendorong ia mewujudkan dirinya sebagai manusia.
Dan Kreativitas dalam Perspektif Islam yaitu dalam pengertian perubahan, perkembangan, dan lain-lainlah, yang ada kaitannya dengan kreativitas manusia. Sebab manusia mencipta bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang sudah wujud kemudian dirubah kebentuk yang lebih baik. Dan ini menyangkut pada perbuatan Tuhan dan pengaruhnya terhadap perbuatan manusia.
Dan manusia diberikan Allah bakat dan kemampuannya, bila mereka memakainya dengan baik sesuai denagan jalan Allah maka itulah perilaku kreatif dalam pandangan Islam.
Selasa, 05 Mei 2009
Selasa, 28 April 2009
boZennnnnnn
bOseN jGa nic di huMs gX da oRaNg,,,, bLum pada pLng.. mu tDuR tP gX biSa...
mU bLjR bWt bSoK UTS kEzMeN...agX maLay... pReseNtasi pUla bSK pSyCHo paNdididkan...
huhuhuh lIeR eUy...
meTlIt msih aGx RaGu,, pa jDi ya jDUL na itu ????
pERKemBanGaN bELum pas ma jUdUL na apa ????
mU bLjR bWt bSoK UTS kEzMeN...agX maLay... pReseNtasi pUla bSK pSyCHo paNdididkan...
huhuhuh lIeR eUy...
meTlIt msih aGx RaGu,, pa jDi ya jDUL na itu ????
pERKemBanGaN bELum pas ma jUdUL na apa ????
Kamis, 23 April 2009
kNoWiNg.........
akhiR na bisa juGa nonton "kNowiNg".....
bErsa bgatZ fResh na....
tugaS2 qu i'm cOmiNg... hohohoohoo
mKsH yaWh aTz wKtu na.....
^_^
bErsa bgatZ fResh na....
tugaS2 qu i'm cOmiNg... hohohoohoo
mKsH yaWh aTz wKtu na.....
^_^
Rabu, 22 April 2009
bEdaH sKriPsi Bab1
1. Isi dari bab 1 skripsi yang berjudul “ TINGKAT RELIGIUS PADA LANSIA”, yaitu:
a. Latar Belakang
b. Pembatasan dan Perumusan Masalah
• Pembatasan Masalah
• Perumusan Masalah: permasalahan Umum dan Khusus
2. Latar Belakang
3. analisis isi bab 1 berdasarkan 4 asumsi dasar pada metode ilmiah
• berdasarkan ke empat asumsi dasar pada metode ilmiah skripsi ini dapat dikatakan empirism dilihat dari judul skripsi yang kami bedah yaitu yang berjudul “ Tingkat Religiusitas pada Lansia “ karena dalam penyelesaian skripsi ini telah dilakukan penilitian di sebuah Panti Sosial Tresna Werdha (PS. TW) Bakti Mulia 03, Cengkareng, Jakarta Barat dan Lansia yang tinggal di Komplek Perumahan Walikota Jakarta Barat. Dan dari hasil penilitian terdapat perbedaan tingkat religiusitas pada lansia yang berada di panti dan non panti, karena keadaan lingkungan mempengaruhi individu.
• Berdasarkan ke empat asumsi dasar pada metode ilmiah skripsi ini dapat dikatakan determinism karena pada isi sub bab latar belakang, penulis mengutip kalimat dari teori-teori dan penelitian terdahulu.
• Berdasarkan ke empat asumsi dasar pada metode ilmiah skripsi ini dapat dikatakan parsimony karena dalam skripsi dijelaskan dari kalimat-kalimat yang umum ke khusus. Dapat dilihat pada pembatasan masalah yang befokus pada lansia dan religiusitas dan perumusan masalah (umum).
• Berdasarkan ke empat asumsi dasar pada metode ilmiah skripsi ini dapat dikatakan testability karena skripsi ini dapat dilakukan pengujian secara empiris seperti identifikasi variabel-variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, populasi dan metode pengambilan sempel, teknik pengumpulan data, prosedur uji instrumen penelitian, validitas dan relaibilitas instrumen penelitian, dan metode analisa data.
a. Latar Belakang
b. Pembatasan dan Perumusan Masalah
• Pembatasan Masalah
• Perumusan Masalah: permasalahan Umum dan Khusus
2. Latar Belakang
3. analisis isi bab 1 berdasarkan 4 asumsi dasar pada metode ilmiah
• berdasarkan ke empat asumsi dasar pada metode ilmiah skripsi ini dapat dikatakan empirism dilihat dari judul skripsi yang kami bedah yaitu yang berjudul “ Tingkat Religiusitas pada Lansia “ karena dalam penyelesaian skripsi ini telah dilakukan penilitian di sebuah Panti Sosial Tresna Werdha (PS. TW) Bakti Mulia 03, Cengkareng, Jakarta Barat dan Lansia yang tinggal di Komplek Perumahan Walikota Jakarta Barat. Dan dari hasil penilitian terdapat perbedaan tingkat religiusitas pada lansia yang berada di panti dan non panti, karena keadaan lingkungan mempengaruhi individu.
• Berdasarkan ke empat asumsi dasar pada metode ilmiah skripsi ini dapat dikatakan determinism karena pada isi sub bab latar belakang, penulis mengutip kalimat dari teori-teori dan penelitian terdahulu.
• Berdasarkan ke empat asumsi dasar pada metode ilmiah skripsi ini dapat dikatakan parsimony karena dalam skripsi dijelaskan dari kalimat-kalimat yang umum ke khusus. Dapat dilihat pada pembatasan masalah yang befokus pada lansia dan religiusitas dan perumusan masalah (umum).
• Berdasarkan ke empat asumsi dasar pada metode ilmiah skripsi ini dapat dikatakan testability karena skripsi ini dapat dilakukan pengujian secara empiris seperti identifikasi variabel-variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, populasi dan metode pengambilan sempel, teknik pengumpulan data, prosedur uji instrumen penelitian, validitas dan relaibilitas instrumen penelitian, dan metode analisa data.
reSuMe iNteLLigeNce
Theories of Intelligence
There are almost as many theories of intelegence as there are definitions. The first, as example fied in the theories of Spearman, Thurstone, Guilford, and Cattell and Horn. These theories’ emphasis on individual differences in intelligence has had great impact on the development of intelligence tests in use today. In fact, the approach is often called the psychometric approach because it emphasizes the measurement of intelligence. The second major approach is seen in Sternberg’s work. Instead of indentifying the particular factors that define intelligence, Stenberg looks at the processes by which a person uses information to solves problems.
Charles Spearman
Charles Spearman was born on September 10, 1863 in the town of London. One the earliest theorists, Charles Spearman, proposed a “g” and several “s” factors in intelligence. The “g” factor (general intelligence), was thought to be an inherited intellectual capacity that influences all-around performance, and the “s” factors (specific abilities) were said to account for the differences between scores on different tasks, say, verbal and mathematical. Spearman justified this division by pointing to the common phenomenon that people who score high on one kind of test usually do well on others but that their scores on various abilities do differ somewhat.
Spearman's most notable contribution to intelligence testing is the idea that all aspects of intelligence, to a certain extent, are correlated with each other. In particular, Spearman believed that only two factors are measured by intelligence tests, a general intelligence factor common to all tests and a specific factor that is distinctive in each test (Williams, Zimmerman, Zumbo, & Ross, 2003). This means that there is a general ability factor that will determine how well each individual does on any particular assessment of cognitive functioning. However, in addition to this general factor, there is also a specific factor unique to each test that will also influence the overall assessment levels. Spearman believed both factors jointly determined the measured value of human intelligence on any particular test.
Spearman came to the two factor conclusion by using methods of factor analysis comparing intelligence measures across a diverse range of samples. By organizing the measured data into matrices, Spearman isolated the factors that were correlated with other factors in determining intelligence levels (Williams, Zimmerman, Zumbo, & Ross, 2003). The end, Spearman found that every single variable was linked to each other to some degree and that a single general intelligence factor could account for all variables. Furthermore, any small inconsistencies in the variables are due to the specific intelligence factors that are unique to each assessment. In this way, all aspects of cognitive functioning can be represented in terms of two distinct factors of intelligence.
There are almost as many theories of intelegence as there are definitions. The first, as example fied in the theories of Spearman, Thurstone, Guilford, and Cattell and Horn. These theories’ emphasis on individual differences in intelligence has had great impact on the development of intelligence tests in use today. In fact, the approach is often called the psychometric approach because it emphasizes the measurement of intelligence. The second major approach is seen in Sternberg’s work. Instead of indentifying the particular factors that define intelligence, Stenberg looks at the processes by which a person uses information to solves problems.
Charles Spearman
Charles Spearman was born on September 10, 1863 in the town of London. One the earliest theorists, Charles Spearman, proposed a “g” and several “s” factors in intelligence. The “g” factor (general intelligence), was thought to be an inherited intellectual capacity that influences all-around performance, and the “s” factors (specific abilities) were said to account for the differences between scores on different tasks, say, verbal and mathematical. Spearman justified this division by pointing to the common phenomenon that people who score high on one kind of test usually do well on others but that their scores on various abilities do differ somewhat.
Spearman's most notable contribution to intelligence testing is the idea that all aspects of intelligence, to a certain extent, are correlated with each other. In particular, Spearman believed that only two factors are measured by intelligence tests, a general intelligence factor common to all tests and a specific factor that is distinctive in each test (Williams, Zimmerman, Zumbo, & Ross, 2003). This means that there is a general ability factor that will determine how well each individual does on any particular assessment of cognitive functioning. However, in addition to this general factor, there is also a specific factor unique to each test that will also influence the overall assessment levels. Spearman believed both factors jointly determined the measured value of human intelligence on any particular test.
Spearman came to the two factor conclusion by using methods of factor analysis comparing intelligence measures across a diverse range of samples. By organizing the measured data into matrices, Spearman isolated the factors that were correlated with other factors in determining intelligence levels (Williams, Zimmerman, Zumbo, & Ross, 2003). The end, Spearman found that every single variable was linked to each other to some degree and that a single general intelligence factor could account for all variables. Furthermore, any small inconsistencies in the variables are due to the specific intelligence factors that are unique to each assessment. In this way, all aspects of cognitive functioning can be represented in terms of two distinct factors of intelligence.
hey....hey....
nMa Q raTna puRijaYaNti....lahIr di poNoRogo tGL 5maRet1989....tPi di BsaRkaN di jaKarTa...peNdidikan sKraNg di faKulats PsIkOlogi UIN jaKaRta,, sBlumnya... tK aiSyaH 32 jaKrta trus sDi aL-baYyinah...trUs mTs. neGeri 4 jakarta aNd maN 7 jaKaRta....paLing suKa baca ne...kumpulaN buKu psYco, nOveL... komik da pula...bagi yaNg mu pinjaM siLakahkan, dTg ja kerumaH aLmtnya..msH di jgaKarsa...musIk sE..rata2 iNdonesia n jaPaN pula...bLog ne mu isi tTg psYcHoLogy.. aTupun cRt2 laInnya.... shaRe yaWh... mKsH...
nMa Q raTna puRijaYaNti....lahIr di poNoRogo tGL 5maRet1989....tPi di BsaRkaN di jaKarTa...peNdidikan sKraNg di faKulats PsIkOlogi UIN jaKaRta,, sBlumnya... tK aiSyaH 32 jaKrta trus sDi aL-baYyinah...trUs mTs. neGeri 4 jakarta aNd maN 7 jaKaRta....paLing suKa baca ne...kumpulaN buKu psYco, nOveL... komik da pula...bagi yaNg mu pinjaM siLakahkan, dTg ja kerumaH aLmtnya..msH di jgaKarsa...musIk sE..rata2 iNdonesia n jaPaN pula...bLog ne mu isi tTg psYcHoLogy.. aTupun cRt2 laInnya.... shaRe yaWh... mKsH...
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)